Jumat, 05 Maret 2010


Judul: SEX pertama

Semenjak kecil aku ikut dengan nenekku yang seorang kepala sekolah di sebuah SD di desaku. Ibuku sedang jadi TKW di Malaysia dan bapakku merantau ke Jakarta.

Jadilah aku tumbuh menjadi anak yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari orang tua.

Aku lebih mengenal Yu Sam, pembantuku, daripada mereka, dan juga nenekku yang begitu disibukkan dengan kegiatan sekolah dan organisasi, sehingga meninggalkan aku hidup dengan seorang pembantu.

Yu Sam adalah seorang wanita setengah baya yang sudah mengabdi di keluargaku jauh sebelum aku lahir, merupakan generasi kedua setelah dahulu orang tuanya juga menjadi pembantu di keluargaku.

Dulu sekali Yu Sam pernah punya suami, tapi kemudian ketika wabah demam berdarah melanda desa kami, suami YU Sam adalah satu korban yang tidak berhasil diselamatkan. Jadilah Yu Sam janda dengan seorang anak yang lebih memilih pulang ke kampungnya di kaki bukit dan menjadi seorang petani, meninggalkan Yu Sam sendiri mengurus keluargaku.

Suatu waktu, sekitar 3 bulan setelah aku disunat, aku digigit oleh Tengu. Seekor hewan kecil yang menghisap darahku dan menempel ketat di tititku sehingga aku dihinggapi rasa gatal yang luar biasa dan tak berdaya, karena tengu itu memilih tempat di bagian bawah burungku yang tak terlihat oleh mataku.

Pasrah dan tak berdaya, akupun memanggil Yu Sam.
"YU...."
Yu Sam tergopoh-gopoh kekamarku dan terkejut setengah mati saat melihatku terbaring tanpa celana di kasur dengan tangan sibuk menggaruk burungku yang bebas.
"Ealah...kenapa den bagus...kok telanjang begitu....lagi ngapain to...."
Katanya sambil membuang mukanya dari tubuhku. Namun aku masih bisa melihat sudut matanya mengerling burungku dan mukanya memerah menahan rasa malu.
"Aku digigit tengu yu. Gak bisa lepas...gatel banget..."Kataku terbata-bata....
Dengan bingung Yu Sar berpikir. Hingga insting keibuannya akhirnya membuat dia menaiki kasur dan mulai memeriksa burung 'Den Kecil'nya.

"Oalah...."Aku tidak tahu maksudnya, karena setelah melihat sebentar kondisiku, dia lalu bangkit dan keluar kamar.
"Loh Yu, mau kemana?" Tanyaku dengan bingung.
"Sebentar den..." Katanya sambil berlalu.
Dia datang lag tak lama kemudian membawa sebuah ijuk kecil, dan segera menghampiriku diatas kasur.
"Sini Yu Sam cungkil pake ini tengunya." Katanya sambil mengulum senyum.
Aku pasrah saja ketika Yu Sam mulai mengutak-atik burungku.
Ada sedikit rasa berdesir karena saat Yu Sam berlutut di sampingku, kebayanya sedikit terbuka dan memperlihatkan daging payudaranya yang montok.
Yu Sam seolah tahu dan melirik ke arah mataku yang berlarian ke arah dadanya.
"Ngeliat apa to den, ko sampai burungnya ikut bangun begini...." Kata dia sambil tersenyum.
Aku jadi gelagapan, melirik burungku yang perlahan membesar, dan menyeringai malu.
"Liat Yu Sam." Jawabku polos.
Yu Sam melirik posisi dadanya dan mengangguk mengerti.
"Ya udah liatin aja terus ya, semakin tegang semakin gampang dicungkulnya den." Katanya, memperbaiki posisinya sehingga dadanya seperti hendak tumpah dibuatnya.
Aku cuma menarik napas panjang. Dan benar saja, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, burungku langsung tegang dengan maksinal.
"Dah...."
Kata Yu Sam, setelah berhasil menjalankan tugasnya, bengkit dan menatap wajahku.
Anehnya, kedua tangannya masih erat menggenggam burungku.
"Dah kena tengunya den. Masih gatal gak......?" Katnya sambil mengelus-elus burungku.
Sambil bergetar oleh perbuatannya aku mengangguk.
"Sedikit yu, tapi kalo diusap-usap seperti itu jadi agak mendingan." Jawabku serak.
Yu Sam tersenyum.
Kalo diusap-usap terus begini nanti keluar gimana?" Tanyanya, sedikit memancing.
Aku mengerutkan keningku.
"Keluar apanya Yu?"
Yu Sam tertawa kecil.
"Keluar itunya....." Katanya sambil makin cepat mengelus, dan mengocok burungku.
Walaupun aku mau mengucap katam suaraku seperti tercekat di tenggorokan.
Seperti terbang rasanya aku dibuai oleh sentuhan Yu Sam sehingga tanpa dapat ditahan lagi....
"Akh....." Aku mengangkat sedikit bokongku dan air maniku bermuncratan keluar, menyemprot Yu Sam, mengenai wajahnya, dan sebagian mengalir ditangannya.
"Akh....ya ampun yu....Enal banget...." Kataku sambil terengah-engah mengalami orgasme pertamaku ditangan seorang wanita.
Muka Yu Sam semakinmerah padam, mungkin oleh nafsu atau juga oleh malu.
Kemudian dia bangkit, menghampiri pintu dan menguncinya dari dalam.
"Masih ada yang lebih enak den." Ucapnya sambil menghampiriku lagi dengan masih mengulum senyum misteriusnya.
Aku tak berdaya. Burungku masih berdenyut sisa orgasme tadi namun fantasy yang ditebar Yu Sam seperti sebuah viagra yang sangat kuat, yang membuat burungku emoh tidur lagi, dan masih tegak menjulang ke angkasa.
Yu Sam kembali naik ke kasurku dan menaiki perutku, bersangga pada kedua lututnya.

Aku terbata saat dia dengan taktis membuka kebayanya. Sret-set-sret.....dalam tiga gerakan kebaya itu sudah terjatuh kebelakang menutupi burungku, dan memperlihatkan dada montok yang tadi jadi biang kerok semua ini dimulai.

"Den, pernah liat perempuan telanjang?" Dari getaran suaranya, aku bisa merasakan kalau Yu Sam sudah nafsu berat ingin dituntaskan.

Aku mencoba mengingat-ingat. Dan menggeleng.
Yu Sam tersenyum sambil melepas kaitan bH-nya.

Aku disuguhi pemandangan yang selama tiga belas tahun tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Dan bagiku saat itu, itulah pemandangan terindah yang pernah aku lihat.

Mungkin payudara Yu Sam tidak terlalu besar, tapi untuk seusia dia yang menginjak kepala 3, daerah itu masih tampak mengesankan.

Yu Sam mengangkat pantatnya dan melepas celana dalamnya. Payudaranya berayun saat dia melakukan semua itu dan aku makin tak karuan.

oh selama hidupku aku adalah seorang anak yang lugu, yang membayangkan mencium perempuan aja nggak berani, dan hari ini terima kasihku untuk tengu sialan yang menggigitku, aku akan segera merasakan seorang wanita secara utuh.

Yu Sam membalikkan badan memunggungiku, sedikit berlutut diatasku, dan selanjutnya yang kurasakan adalah sebuah kehangatan yang menyelimuti burungku.

Yu Sam mengoralku. Aku hanya memejamkan mata, mencoba berfikir bahwa ini semua hanya sebuah mimpi. Tapi kuluman, jilatan, dan sedotan yang aku rasakan di burungku terlalu mencekam sehingga aku melayang, menikmati semuanya dengan mulut setengah ternganga dalam sentuhan-sentuhan yang menjalari setiap inchi kelelakianku.

Dan tak butuh waktu lama, badai orgasme segera melandaku kembali.
"YU.....Akh......." Keluar juga suaraku.
Aku mengangkat kepalaku sejenak sebelum kemudian kembali terhempas dalam semprotan-semprotan cintaku yang langsung membasahi kerongkongan Yu Sam.
Aku terpejam sesaat, tak peduli Yu Sam masih berkutat dengan jilatannya yang tak kunjung reda mengulas seluruh permukaan burungku.
Aku benar-benar dihabisi siang itu. Oleh Yu Sam, pembantu setiaku.

Anehnya Yu Sam masih terus mengulum burungku yang mulai mengecil kelelahan. Aku membuka mata, mencoba menahan geli yang masih tersisa akibat orgasmeku barusan dan terpukau ketika menyaksikan apa yang terhidang dihadapanku.

Sebuah gugusan pantat yang montok, dan belahan daging diantara paha Yu Sam yang kulihat seperti merekah dan berlendir, tepat dibawah daguku.
Sebagai penghargaan atas perbuatannya, akupun menarik pantat itu agar makin mendekati mukaku dan mencoba mencium bongkah kewanitaan Yu Sam.

"Emmmh...." Yu Sam sedikit mendesah ketika bibirku tiba di bibir bawahnya.
Rasanya sedikit asin dan aneh di mulutku, tapi sudah kepalang tanggung akupun menjilatnya sekalian.

Yu Sam melenguh sambil mengencangkan otot pantatnya. Aku terus menjilatnya, menit demi menit, menemukan sensasi baru dalam erangan demi erangan Yu Sam dan ajaib, Aku pun ON lagi.

Yu Sam tak menyia-nyiakan kesempatan ini, dan segera berbalik menghadapku.

"Den....maafkan Yu Sam, tapi sudah terlalu lama Yu Sam tidak pernah merasakan ini jadi Yu Sam tak dapat mengendalikan diri lagi."
Sambil berkata begitu Yu Sam mengarahkan kepala burungku ke vaginanya dan pelan-pelan menurunkan pantatnya.
"mmmmmh....." Yu Sam seperti mengerang, memejamkan mata dan begitu menghayati setiap inci penetrasi ini.

Aku merasakan burungku seperti tenggelam dalam sebuah gulungan sutra yang hangat dan berdenyut, dan sambil menatap burungku yang pelan-pelan lenyap kedalam vaginanya, aku menghela napas.
Yu Sam mulai memacu tubuhnya dengan lembut dan konstan.
"Den.....maafin Yu Sam....sssssh.....ahhhh...." Yu Sam meracau dalam desahannya.
Aku tak menjawab. Aku sedang berada dalam sebuah kondisi dimana seolah-olah rohku melayang-layang diluar jasadku dan aku tak kuasa berbuat apapun......
"Yu....."Kataku pada akhirnya." Enaaaak........"
Yu Sam makin mempercepat goyangannya, membuatku makin merem-melek oleh semua gesekan dan empotan vaginanya yang makin basah kuyup melumat burungku.
"Den......Yu Sam juga enaaak banget den.....ahhh......Yu Sam nggak kuat........"
Yu Sam mengerang tak terkendali. Dia membenamkan burungku sedalam-dalamnya dan bergetar seperti mengalami sebuah trance.
Dinding vaginanya berdenyut-denyut cepat, mengejang, menegang, seolah ingin melumat burungku dan sambil tersengal dia mendesah panjang.

"Aaaaaah....Den.........." Yu Sam orgasme.
Dia berhenti sesaat. Memejamkan matanya menghayati setiap ledakan elektrik yang menerpa seluruh syaraf di tubuhnya dan membuatnya terlihat sangat seksi bagiku. Begitu memukau rasanya mendapati burung kecilku mampu memuaskan seorang wanita dewasa macam Yu Sam.

Aku menatapnya nanar. Menyaksikan wanita yang dulu sering mengganti popokku, yang sering menyuapiku, menidurkanku, sekarang sedang meregang kenikmatan diatasku dalam sebuah persetubuhan yang melelahkan.
Aku membiarkan dia dengan orgasmenya dan menunggu.
Beberapa saat kemudian, tersadar dari dera kenikmatannya, Yu Sam menunduk kearahku dan tersenyum.
"Makasih ya den, Yu Sam dah merasa lega sekarang." Katanya sambil kembali menggoyang pinggulnya.

"Sekarang giliran aden, ayo, keluarkan semuanya di dalam Yu Sam, Yu Sam ingin merasakan semprotan perjaka aden dalam tubuh Yu Sam." Bisiknya sambil mempercepat tempo permainan.
Aku cuma termangu, menatap perempuan ini berpacu diatasku dengan payudara berguncang-guncang dan keringat meleleh di sekujur tubuhnya.
Terima kasih Yu Sam, atas semua yang telah kau berikan padaku, dan terima kasih telah mengajarkan banyak hal kepadaku. Termasuk yang satu ini.
Tanpa suara aku menggapai orgasme ketigaku.
Yu Sam terengah-engah menghentikan aksinya. menatapku yang tanpa daya berkejat-kejat dibawahnya, dan dengan perlahan menhempaskan tubuhnya menindihku.

Dia menciumku. Mencium bibirku dengan segenap jiwanya hingga bisa kulihat dia menitikkan air matanya dan terus menciumku.
Aku membiarkan dia tetap diatasku sampai burungku mengecil dan keluar dengan sendirinya dari pelukan vaginanya, menghela napas panjang dan memejamkan mataku.

Setelah sebuah pergumulan panjang dengan kenikmatan, akupun tertidur kecapekan.

Itulah pengalamanku bercinta untuk pertama kalinya. Dan itu adalah pengalamanku yang paling fantastis. Setelah hari itu aku masih sempat bercinta dengan Yu Sam beberapa kali, tapi tidak pernah se intens hari itu.

Dan beberapa bulan kemudian Yu Sam pulang kampung dengan alasan rindu dengan anaknya dan semenjak itu tidak pernah lagi kembali.

TAMAT

2 komentar: